Angkutan Massal Cepat: Efektifkah?

Seiring berkembangnya Kota Surabaya menjadi kota metropolitan dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 3 juta jiwa, telah menjadikan Kota Surabaya menjadi salah satu kota tersibuk di Indonesia. Aktivitas penduduk yang begitu sibuk berimplikasi pada pada peningkatan volume pergerakan barang dan jasa, baik di dalam Kota Surabaya maupun dari dan keluar Kota Surabaya. Peningkatan volume pergerakan ini dapat diindikasikan dengan pertumbuhan jumlah kepemilikan kendaraan bermotor di Kota Surabaya yang meningkat setiap tahunnya dan kemacetan yang selalu semakin parah dari tahun ke tahun. Jumlah pergerakan yang terus meningkat ini juga secara tidak langsung “menuntut” dibangunnya jalan-jalan raya baru untuk memecah penumpukan kendaraan di ruas jalan-jalan tertentu terutama pada jam-jam sibuk. Tentu pembangunan jalan-jalan baru tidak bisa terus dilakukan mengingat keterbatasan lahan yang dimiliki Kota Surabaya maupun kota-kota metropolitan lainnya, hingga akhirnya muncul ide membangun angkutan massal cepat sebagai sebuah solusi untuk mengatasi kemacetan ini.

Budaya Masyarakat
Peningkatan volume pergerakan merupakan suatu hal yang wajar terjadi seiring bertambahnya jumlah populasi penduduk di sebuah kota, sehingga peningkatan volume pergerakan bukan menjadi penyebab utama atas kemacetan yang terjadi di Kota Surabaya maupun kota metropolitan lainnya. Kemacetan terjadi ketika volume kendaraan yang melintas pada suatu ruas jalan melebihi kapasitas/daya tampung dari ruas jalan tersebut. Tentu kita sadari bahwa peningkatan kendaraan bermotor pribadi sangat jauh lebih pesar daripada peningkatan kapasitas/daya tampung ruas-ruas jalan di perkotaan.Hal inilah yang menjadi biang kemacetan di kota-kota metropolitan termasuk Kota Surabaya.
Menggunakan kendaraan bermotor pribadi sudah menjadi gaya hidup masyarakat kota-kota metropolitan. Selain kemudahan dalam membeli kendaraan bermotor, kendaraan bermotor pribadi dinilai lebih efektif dan efisien digunakan berpergian atau melakukan pergerakan dari tempat asal ke tempat tujuan daripada menggunakan angkutan umum. Meskipun tempat tujuan tersebut dapat dijangkau dengan berjalan kaki atau bersepeda, tetap saja banyak masyarakat yang lebih senang menggunakan kendaraan bermotor pribadi. Penggunaan kendaraan bermotor pribadi ini sudah menjadi budaya masyarakat kota-kota metropolitan. Untuk meningkatkan minat masyarakat agar beralih ke angkutan massal cepat, pemerintah kota harus dapat mengubah budaya ini dengan menyaingi keunggulan menggunakan kendaraan motor pribadi dibandingkan menggunakan angkutan umum.

Kenyamanan
Masing-masing dari kita dapat menilai lebih nyaman mana berpergian dengan menggunakan angkutan umum atau menggunakan kendaraan bermotor pribadi. Kenyamanan yang dirasakan setiap orang dalam berpergian akan menjadi pertimbangan utama dalam memilih sarana transportasi, apakah menggunakan angkutan umum atau kendaraan bermotor pribadi. Kondisi fisik angkutan umum yang sudah tua, kotor, perilaku sopir yang terkadang ugal-ugalan dalam berkendara, apalagi dengan berbagai pemberitaan mengenai kejahatan yang tejadi di angkutan umum akhir-akhir ini tentu akan jauh mengurangi minat masyarakat untuk menggunakan angkutan umum dalam berpergian.
Angkutan massal cepat yang digagas baru-baru ini harus mampu menyaingi kendaraan bermotor pribadi dalam aspek kenyamanan. Berpergian dengan menggunakan angkutan massal cepat tidak ubahnya seperti berpergian menggunakan kendaraan bermotor pribadi. Penumpang angkutan massal cepat harus merasa nyaman, kondisi angkutan harus bersih, aman dari kejahatan, dan sebagainya seakan-akan angkutan massal cepat adalah kendaraan pribadi setiap masyarakat.

Aksesibilitas
Aksesibilitas berkaitan dengan waktu tempuh dan rute/ daya jangkau suatu kendaraan, dalam hal ini kendaraan bermotor pribadi dan angkutan umum. Dapat kita bayangkan untuk menuju tempat yang sama dari tempat asal yang sama pula, seseorang yang menggunakan kendaraan bermotor pribadi pasti lebih dahulu mencapai tempat tujuan tersebut daripada menggunakan angkutan umum. Pertimbangan waktu ini tentu salah satu menjadi preferensi masyarakat dalam memilih sarana transportasi. Rute dalam kota yang dilayani oleh angkutan umum juga terbatas jika dibandingkan dengan daya jangkau kendaraan bermotor pribadi. Belum lagi jika tidak ada angkutan umum yang melayani rute ke tempat tujuan tersebut secara langsung dari tempat asal, maka orang tersebut harus berpindah angkutan umum satu ke angkutan umum lainnya hingga mencapai tempat tujuan.
Untuk menjangkau seluruh rute tentunya tidak mungkin menggunakan angkutan massal cepat yang hanya melayani rute-rute utama. Dalam konteks Kota Surabaya, angkutan massal cepat hanya memiliki dua rute yaitu dari arah barat menuju arah timur dan sebaliknya dan arah selatan menuju arah utara dan sebaliknya. Untuk menjangkau wilayah-wilayah yang tidak dilalui angkutan massal cepat tersebut, pemerintah kota harus menyediakan angkutan feeder yang menjembatani antara rute angkutan massal cepat dan wilayah tujuan. Angkutan feeder ini juga harus memenuhi kriteria kenyamanan, aksesibilitas tinggi dan murah.

Tarif
Kriteria terakhir yang menjadi senjata untuk mengubah budaya masyarakat memakai kendaraan bermotor pribadi adalah tarif angkutan massal cepat. Tarif angkutan umum (bemo) di Kota Surabaya adalah Rp.4000 untuk satu tempat tujuan, sehingga yang dibutuhkan untuk pergi pulang sebesar Rp.8000. Belum lagi untuk menuju tempat tujuan membutuhkan pergantian rute angkutan umum sebanyak 2 kali maka diperlukan uang sebesar Rp.16000 untuk perjalanan pergi pulang. Coba kita bandingkan jika uang sebesar Rp.8000 tadi dibelikan BBM motor, kita dapat mengunjungi lebih dari satu tempat tujuan. Toh kalaupun kita membayar retribusi parkir motor di tempat tujuan, misalkan pusat perbelanjaan, kita dikenakan tarif Rp.2000, sehingga total kita mengeluarkan Rp.10000 dan masih bisa berpergian ke tempat lainnya.
Tarif angkutan massal cepat nantinya setidaknya harus lebih murah dari tarif retribusi parkir. Apabila tarif angkutan massal cepat ini tidak bisa dibuat murah, maka pemerintah kota harus berani menaikkan tarif retribusi parkir pusat-pusat kegiatan dan menindak tegas parkir liar.
Ketiga kriteria ini setidaknya harus diperhatikan oleh pemerintah kota jika memang benar-benar ingin mengubah budaya masyarakat yang gemar berpergian menggunakan kendaraan bermotor pribadi daripada menggunakan angkutan umum.

Unfinished Story

Perhatian! Ini hanyalah fiksi belaka!

Manusia di bumi bagaikan bintang-bintang, planet-planet, benda angkasa yang tersebar di semesta ini.

Bintang, planet, benda angkasa masing-masing memiliki orbitnya sendiri. Jalur lintasannya sendiri. Namun, setiap benda angkasa ini memiliki kebebasan untuk menentukan orbitnya sendiri, berpindah dari orbit satu ke orbit yang lain.

Diantara sekian banyak benda angkasa, terdapat salah satu planet (sebut saja planet #3) yang terletak jauh hampir tepian semesta. (emang dimana garis tepi semesta?) Planet ini bergerak mengikuti orbit yang telah dipilihnya. FYI, suhu di planet #3 ini sangat dingin, mungkin lebih dingin dari suhu luar angkasa itu sendiri (apa mungkin?) Dari luar angkasa, planet ini berwarna putih, kadang terlihat gelap sempurna layaknya lubang hitam a.k.a black hole hingga mampu membelokkan jalannya cahaya.

Suatu saat, setelah melalui beberapa siklus (entah satuan waktunya apa), orbit planet #3 berada cukup dekat dengan orbit planet lain (sebut saja planet #0). Pada awalnya planet #0 ini terlihat biasa, tidak membawa dampak signifikan terhadap perubahan kondisi planet #3. Namun, ternyata planet #0 serta merta membawa sebuah bintang pada orbitnya (WOW: gravitasi planet #0 lebih besar daripada gravitasi bintang). Bintang ini cukup kuat radiasi panasnya untuk menaikkan suhu planet #3 dan mencairkan seluruh kebekuan yang menyelimuti planet #3. Sekilas, sepertriliun siklus, muncul keinginan dari planet #3 untuk berpindah orbit mengikuti planet #0 karena di dekat planet #0 ada bintang yang selalu bersinar hangat (serasa panas matahari bumi pukul 7-8 waktu bumi). Karena perbedaan kecepatan mengorbit orbitnya masing-masing, planet #3 tidak sempat mengutarakan maksudnya kepada planet #0. Dan kedua planet semakin menjauh, begitu pula bintang yang berada di planet #0.

Sepeninggal pertemuan singkat tersebut, keadaan menjadi sepi, dingin, hitam, putih…

Sebenarnya kedua planet tersebut bertemu kembali cukup lama dan cukup dekat jaraknya (sebut saja siklus kedua), namun karena keadaan eksternal planet #3 tidak memungkinkan untuk mengikuti orbit planet #0… (ceritanya dipersingkat)

Akankah ada pertemuan ketiga?

Dia

Dia bukan kamu
Dia yang berbeda
Dia yang datang kedua kali
Dia yang berasal dari seberang lautan
Dia yang putih
Dia yang senyumnya dingin
Dia yang selalu hilang
Dia yang menenangkan
Dia…
Dia…
Dia…
Dasar jutek!

Salju di Khatulistiwa

Putihnya salju, dinginnya salju saling bertemu/

Jingga belum juga nampak hingga kini/

Kebekuan masih setia menemani/

Tiada penat//

Sepercik merah, kapankah kau menghampiri keheningan ini?/

Pertemuan ketiga kah yang dinanti?/

Entahlah//

Serasa menanti datangnya salju di khatulistiwa/

Sampai kapan?//

Membaca dan Membaca

Beberapa waktu lalu (hampir setaun yang lalu), saya berpendapat dalam blog ini bahwa menulis adalah salah satu metode terapi kejiwaan. Dengna menulis, kita dapat menyalurkan emosi kedalam tulisan kita, mengalirkannya kedalam susunan huruf-huruf, rangkaian kalimat hingga membentuk paragraf-paragraf berirama mengikuti aliran emosi kita. Seakan-akan kita meniupkan jiwa kepada tulisan kita dan melukis ekspresi dengan rangkaian huruf-huruf.

Ternyata tidak hanya menulis yang mampu menerapi emosi kita, ahhaha.. Sy menyadari bahwa membaca (novel) mampu menciptakan efek yang tidak kalah dahsyatnya. Wkwkwkww.. Ketika membaca, kita akan melepaskan drama kehidupan di dunia nyata dan memasuki drama kehidupan para tokoh yang ada di dalam cerita. Dinamika baru, suasana baru, latar baru, semuanya baru. Sejenak kita melupakan hiruk pikuk dan segala beban yang menghimpit kita di dunia nyata. Kita larut dalam alunan ritme kisah para tokoh di dalam novel. Terkadang mencoba menghadirkan mereka ke dunia nyata. Mencari-cari seseorang yang mampu memerankan sosok mereka di dunia nyata.

Hampir saja aku tidak dapat membedakan mana dunia nyata dan mana dunia novel (kayak film Inception aja) saking nikmatnya meninggalkan realitas yang sesungguhnya di balik layar leptop dan memasuki realitas tokoh di setiap lembaran kertas yang kubaca. I can’t stop reading that novel. Sungguh menawarkan kebebasan diantara sempitnya ruang pikiranku saat ini.

Bukan lagi hanya Si Komo yang lewat, tetapi Si Komo dan Keluarga Besar yang lewat

Yap, macet dan macet dan macet dan macet…. adalah permasalahan sehari-hari yang pasti kita temui di kota-kota metropolitan di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya (sepanjang pengetahuanku).

Ada sebuah dilema antara menyediakan angkutan massal yang nyaman, aman, cepat dengan penerimaan pajak kendaraan bermotor yang setiap tahun cenderung bertambah banyak. Di sini sy tidak menampilkan data pertumbuhan kendaraan bermotor. Namun dengan asumsi pertumbuhan penduduk yang positif, pertumbuhan ekonomi yang positif, kemudahan mengangsur kendaraan bermotor, menjadikan kepemilikan kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor terus melonjak dari tahun ke tahun. Pertambahan jumlah kendaraan ini tentu akan menjadi sumber pendapatan pajak Pemerintah Daerah. Selain itu, pertambahan jumlah kendaraan yang lalu lalang dijalan raya setiap harinya akan menambah volume kendaraan dan polusi-polusi yang ditimbulkannya.

Berapa sih cost dan benefit antara mengurangi jumlah kendaraan bermotor (dgn berbagai disinsentif) yang berpotensi menurunkan penerimaan pajak kendaraan bermotor dengan kemacetan, polusi yang ditimbulkan oleh pertambahaan kendaraan bermotor? Aku rasa, permasalahan kemacetan tidak hanya terletak pada pemerintah kurang sigap atau kurang memberikan solusi, namun juga menyangkut permasalahan penerimaan pajak. Bayangkan saja jika jumlah kendaraan menurun drastis karena masyarakat lebih memilih angkutan massal, maka jumlah penerimaan pajak kendaraan bermotor juga akan turut mengikuti pergerakan jumlah kendaraan.

Entahlah, ini adalah salah satu pendapat diantara sekian ribu pendapat yang merasa bosan dengan Si Komo dan keluarga besarnya lewat seenaknya di jalan raya kota-kota metropolitan.

Untittled

Hemm, rasanya ingin menumpahkan seluruh pikiran yang melayang-layang di kepalaku selama beberapa hari terakhir ini. Seperti pada tulisanku sebelumnya, menulis adalah cara jitu menyalurkan beban. Hahaha..

Sempat terbesit dalam pikirku jika aku ini seorang pengecut. Seorang yang tidak mampu menghadapi kenyataan hidup (hiperbola). Namun, bagian lain dari diriku berusaha membela bahwa aku tidak ingin mengulangi kesalahan, kebodohan yang telah kulakukan di masa lalu. Biarlah aku dikatakan pengecut, asal aku tidak melakukan hal yang dapat merusak hidupku dan hidup orang lain. Pikiran ini menggelayutiku setiap saat, pikiran yang seharusnya ditumpahkan untuk pekerjaan, banyak teralihkan kepada perasaan yang pelik ini.

Aku jadi teringat buku yang telah ku baca beberapa waktu lalu di Kota Minyak, Balikpapan. Buku yang mengajari bagaimana mengendalikan emosi khususnya emosi negatif. Emosi tidak dapat dihilangkan atau ditekan. Emosi harus disalurkan pada tempatnya. Aku mengambil kesimpulan bahwa aku harus ikhlas terhadap apa yang telah terjadi di masa lalu-ku, sehingga pikiran itu tidak terus membayangiku sepanjang waktu.

Beberapa hari yg lalu, diadakan sebuah diskusi di kalangan teman2ku bertemakan “Bekerja secara Profesional”. Ya, itu seharusnya. Sebelum adanya tema diskusi tersebut, aku sudah berusaha bekerja secara profesional dalam pemaknaanku sendiri. Bekerja secara profesional memang tidak semudah yang aku bayangkan. Awalnya memang terasa ringan, hal ini tidak terlepas dari partner kerja yang mendukung untuk berusaha memberikan yang terbaik untuk pekerjaan. Memang tidak ada masalah dengna partner kerjaku saat ini yang notabene beda orang dengan partnerku yang pertama. Secara semangat kerja pun tidak kalah kurasa. Bisa dikatakan yg satu ini lebih rajin dan ter-manage dengan baik pekerjaannya. Apa mungkin karena perbedaan faktor lawan jenis? Ah, aku belum membaca/menemukan studi terkait tentang itu. Who knows?

Mungkin inilah, salah satu tantangannya untuk bekerja secara profesional………

Mengumpulkan Potongan-Potongan Puzzle Tugas Akhir (2)

Yak.. ini adalah bagian kedua dari kisah perjalanan menuju kelulusan strata 1.

Bagian pertama tulisan ini sudah dipublish sekitar 6-7 bulan yang lalu.. (lama banget!!) Tim produksi tulisan ini tidak mau kalah dengan lamanya produksi film-film franchise kayak fast to furious 6 yg baru-baru ini rilis.

Ok back to the topic.

Ternyata perjalanan berat menyelesaikan tugas akhir berlanjut di semester berikutnya. Dengan bekal komentar, saran, bimbingan dosen penguji di semester sebelumnya, kami (saya dan dosen pembimbing) mengutak-atik kembali metode analisa pada penelitian ini. Kesimpulannya kami menggunakan analisis deskriptif -> analisis regresi -> analisis korespondensi. Eng ing eng.. tiba waktunya “judgement day”. Tidak disangka terdapat satu dosen penguji baru. Komposisi baru. Formasi baru. hahaha… Dosen barunya itu masih fresh from the oven, eits, maksudnya fresh graduate program doktoral jebolan universitas di melbie, aussie (lupa nama univ nya). Katanya para senior, dosen ini termasuk killer. Ah, sejenak saya lupakan pikiran-pikiran negatif dan mempresentasikan hasil penelitian saya di depan kedua dosen penguji.

Seperti kebiasaan saya sebelumnya, ternyata saya berdebat dengan dosen penguji yg lama. Tidak cukup itu, sy juga berdebat dengan doktor dari melbie tentang alat analisis. bla bla bla bla…. (sempat melakukan skak mat ke dosen penguji (hahaha…))…

menunggu hasil sidang……………………

Ternyata hasil sidang tidak cukup memuaskan meskipun lolos ke sidang ketiga dengan syarat banyak revisi di bagian metode!

Belajar dari pengalaman-pengalaman lalu, akhirnya sy melakukan asistensi ke dosen penguji untuk pertama kalinya. Meskipun kedua dosen penguji memberikan saran yg berbeda, sy cenderung mengikuti saran dosen doktor tersebut. Singkat cerita dengan pede sy mempresentasikan hasil revisi di sidang ketiga dan ternyata formasi dosen pengujinya berubah lagi. Dosen penguji yg mengikuti saya dari awal sidang 1 tidak lagi mengikuti di sidang akhir ini (syukurlah).. hahaha.. Pada sidang akhir ini juga mendatangkan penguji eksternal dari jurusan statistik.. (berasa keren gitu diuji dosen statistik).. Finally, alhamdulillah sy dinyatakan lulus dengan syarat revisi minor. hip hip hurray, hip hip hurray.. sebenarnya kalau g direvisi sih gpp, asal g ketauan. Pokoknya ngumpulkan persyaratan kelulusan aja. Namun, karena terbawa euforia kemenangan (hahaha..), revisinya tetep sy kerjakan donk sebagai mahasiswa yg bertanggung jawab.

Perjuangan kelulusan tidak sampai disini! Untuk dinyatakan lulus, ternyata kami, mahasiswa harus melengkapi berkas-berkas administrasi yang ribet. Dari dulu ya urusan birokrasi mesti ribet dengan tetek bengeknya. Kami harus berlari kesana kemari dari bukit shafa ke bukit marwah, serasa musim haji nih… Setelah berjuang menembus ketatnya birokrasi yang tidak kalah ketat dengan outfit superman, kami akhirnya dapat mengikuti wisuda di graha kampus tercinta tanggal 17 Maret 2013. Kala itu, hadir seseorang yg pernah menjadi “the spesial one” menyaksikan sy mengenakan pakaian toga. Setelah proses wisuda, kami menghabiskan waktu berdua.. duh senengnya.. #sensor

Euforia kesenangan udah g bertahan lama, setelah itu kita semua bingung cari kerjaan. Unutung saat itu, sy sibuk mengerjakan PKM (loh padahal kan udah lulus?) bekal sy sebelum lulus. Jadi ceritanya, sebelum lulus saya mengajukan proposal PKM tentang penelitian akhir ini. Siapa tahu kalau didanai, dana nya bisa dibuat semacam uang pesangon gitu. Alhamdulillah, sy dapat pesangon 18 juta. hahahaa… Sambil mengerjakan PKM, eh tiba2 hape sy berdering dan ternyata suara dosen doktor kemarin-kemarin yg berada di seberang sana menawari sy pekerjaan proyek di kalimantan. Syukur alhamdulillah pake banget deh.. tanpa pikir panjang, sy langsung iyakan saja.. dan akhirnya sampai sekarang sy masih proyekan dengan dosen tersebut..

apa kira2 hikmah yang bisa diambil ya?

“bersikaplah keren di depan dosen penguji”

World Class University is More Than Just A Title

What does the “world-class university” mean? According to Levin’s paper (2006), the definition of “world-class university” is subjective. It’s one on which there is a widespread agreement of a world-class reputation—that it is one of the best in the world. The lack of an absolute set of performance criteria and measurements may mean that “world-class” title will always be positional, referring to those universities that are at the top of academic reputation than those that fit a class of standards (Levin et.al, 2006). The criteria of world-class university are not only consist of measurable dimensions but also consist of the unmeasurable. To achieve “world class univeristy” title, the universities only concern to attempt addressing visible and measurable dimensions such as research activity, publications, citations, and major faculty awards but they tend to ignore unmeasurable dimensions such as quality of educational process. Relate to the unmeasurable dimensions of criteria of world class university, does the Sepuluh Nopember Institute of Technology fulfill them?
Still according to Levin’s paper, great universities have three major roles: (1) excellence in educating their students; (2) research, development and dissemination of knowledge; and (3) activities contributing to culture, science, and society. First role of great university refers to the good resources and organization of undergraduate, graduate, and professional instruction and educational opportunities for students. Second role refers to the embryonic identification, growth, and extension of concepts and ideas as well as their transformation into applications, goods, and services that enhance understanding and welfare. Third role refers to conferences, publications, artistic events and forums as well as provision of services that engage and give to the larger community including the regional, national, and international communities. The roles above can be classified into research activities and community service activities. On other hand, we can say that world class university is a university which is based on research for society’s welfare, so that great university always has great effects for the society.
One thing that affects the greatness of the university is the quality of students and lecturers. The quality of students are influenced by quality of applicant students. To get high qualities of applicant students, the selection of them should be as strict as possible so that the university gains only the best students in score. As we know, the new policy of SNMPTN 2013 is released. The new quota of “SNMPTN jalur undangan” is 50%, “SNMPTN jalur tertulis” is 30%, and “SNMPTN jalur mandiri” is 20% (http://snmptn2013.net/tahun-2013-snmptn-tulis-tidak-jadi-dihapus/). In “SNMPTN jalur undangan”, it has been decided that schools with “A” accreditation score can send 50% of their best students, while those with “B” accreditation score can send 30%, and those which got “C” can only send 15%. Meanwhile, schools who haven’t been accreditated are limited to only 5% (http://www.dikti.go.id/?p=2952&lang=id). This policy is very potential for cheating between students and schools. It is possible that students who wanted to be accepted in state university through jalur undangan can have “a coordination/cooperation” with their schools so that they were recomended to apply “jalur undangan”. Another reason that influence university’s quality is lecturing quality. A high quality of students and lecturers complement each other and both are very important elements in forming a high quality of university.
Lecture activities, including teaching methods should be well-designed so that students can resolve the problems in society. Students are not being filled with theories which tend to be “stiff” without trying to notice the real problem on site. It is very necessary because the society’s problem dynamics are not as simple as taught in regular college. Students should be familiarized with community to solve problems with research/scientific methods. So, from explanation above, we may say that outputs are well supported by good inputs and processes are also good.
As a big education institute, ITS must emerge cultures that are able to encourage the spirit in realizing its vision. This cultures must be emerged to ITS’s whole family, not only emerged to lecturers and students, but also emerged to employees. The cultures that can be emerged are encouraging research. Then they would be in line that ITS get the title as the “Research University”. Students will be familiar with research mindset which helps students to solve easily the problems in dynamic society.
With all of the criterias mentioned above, we think that ITS is capable enough to try to get to the “World Class University” title with a variety of resources that have been owned. To be a World Class University, it is not only measurable criteria that must be considered, but more than that, unmeasurable criteria will determine whether a university is worthy to be called “World Class Univerisity” or just a title only.

Mengumpulkan Potongan-Potongan Puzzle Tugas Akhir (1)

Yup! Akhirnya ketemu judul yg pas untuk tulisan saya kali ini.

Tulisan saya kali ini bercerita mengenai pengalaman pribadi selama pengumpulan data-data primer untuk Tugas Akhir. Yup, Tugas Akhir! Sebuah magical word phrase yg menyihir mahasiswa semester akhir seperti saya.

Sedikit bercerita sedikit mengenai tema tugas akhir saya yaitu penelitian mengenai faktor-faktor penarik migrasi di Kota Surabaya. Tentu saja, untuk mengidentifikasi faktor-faktor penariknya, dibutuhkan data-data yg berupa data primer hasil pengisian kuesioner. Memang secara sekunder, faktor-faktor penarik migrasi dapat diidentifikasi melalui analisis regresi. Namun kekurangan dari analisis ini, yaitu membutuhkan data-data yg berjenis interval/rasio (sebagian besar diambil dari data sekunder). Meskipun data nominal bisa dianalisis menggunakan regresi dengan menggunakan dummy, namun data yg dibutuhkan (misal, faktor kekeluargaan, faktor kualitas pelayanan fas.sosial, faktor kualitas prasaran dan sarana transportasi, dsb) tidak bisa diperlakukan sebagai input dari regresi dan bersumber dari data primer. Sehingga diperlukan survey primer/lapangan untuk mengumpulkan data-data tersebut.

Tentunya dalam survey primer, diperlukan sampel yg dapat mewakili populasi (seluruh penduduk migran masuk di Kota Surabaya). Singkat cerita (padahal dibutuhkan waktu 2 minggu untuk menentukan teknik sampling yg tepat) didapatkan 6 kecamatan sebagai sampel kecamatan, diturunkan lagi menjadi 6 kelurahan sebagai sampel kelurahan, diturunkan lagi menjadi total 296 sampel penduduk migran.

Setelah mengetahui daerah survey, saya melayangkan surat ijin survey ke instansi-instansi terkait yaitu sampel kecamatan dan sampel kelurahan. Secara umum, pelayanan birokrasi untuk perijinan ini di tingkat kecamatan cukup mudah. Tidak sesulit saya bayangkan sebelumnya (pengalaman mengurus perijinan survey di beberapa kabupaten lain). Dimulai dari Kecamatan Gubeng, surat ijin menginap satu hari karena memang saya datang kesana sore hari. Namun melihat jam Hape masih menunjukkan pukul 3an sore, saya nekat berangkat ke Kecamatan Tambakrejo. Tidak disangka pelayanan disana begitu cepat, cukup sekitar 15an menit saya menunggu, surat ijin sudah bisa diambil tanpa menunggu hari esok.

Esok harinya, saya mendatangi Kecamatan Gubeng lagi untuk mengambil surat ijin dan melayangkan ke Kelurahan Mojo. Nah, di kelurahan ini, saya menunggu cukup lama (mungkin sekitar 1 jam) karena Bu Lurah nya (masih muda n cantik loh) sedang menerima tamu. Namun selepas itu, urusan ijin beres dalam 5 menit. Setelah itu saya langsung capcus ke Kelurahan Tambakrejo, pada saat itu jam Hape menunjukkan waktu sore hari (saatnya perangkat camat n lurah berkemas-kemas pulang). Beruntung bagi saya, saya masih diterima di Kelurahan Tambakrejo. Urusan ijin, juga begitu cepat, cuman bedanya disini saya sedikit di”interogasi”, tapi itu tidak menjadi masalah.

Hari ketiga, saya mengunjungi Kecamatan Krembangan di daerah utara. Memang daerah yg cukup asing bagi saya. Namun untungnya saya dapat dengan mudah menemukannya. Sebelumnya saya membayangkan bahwa urusan di kecamatan ini cukup susah, namun tak dinyana, mengurus surat ijin di sini begitu mudah dan ramah. Akhirnya saya langsung berangkat menuju kelurahan kemayoran. Pencarian lokasi kelurahan kemayoran ini cukup sulit, saya sempat disasarkan oleh tukang becak (dasar sial). Namun setelah berputar-putar selama 45 menit an, saya akhirnya menemukan kantor Kelurahan Kamyoran. Perangkat kelurahan di sana semuanya cowok, suasana menjadi dingin mencekam (hahaha..). Saya “ditangani” dengan dingin. Kebetulan pada saat mengurus saya sedang memperhatikan warga lain yang sedang mengurus urusan administrasi, dan di akhir urusannya warga mempraktikkan “salam tempel” kepada salah satu perangkat kelurahan (menurut saya, sikap seperti ini bisa memicu perangkat kelurahan untuk bertindak curang). Setelah menyampaikan tujuan kedatangan saya, saya disuruh balik esok hari, karena Pak Lurah sedang mengikuti rapat di Kantor Kecamatan. Akhirnya saya langsung menuju ke Keluraha Dupak yg berlokasi tidak jauh dari Kelurahan Kemayoran. Pelayanan disini cukup sedang-sedang saja jika dibandingkan dengan pelayanan di 2 kelurahan sebelumnya. Karena berada di satu kecamatan dengan Kelurahan Kemayoran, maka saya terpaksa menunggu satu hari untuk mengambil surat ijin di Kelurahan Dupak. Saya kembali melihat jam Hape dan waktu masih menunjukkan tengah hari. Berbekal peta jalan yg sudah saya pelajari sebelumnya, saya memeberanikan diri mengunjungi Kecamatan Sukomanunggal di daerah Barat Surabaya. Memang cukup jauh dari Kelurahan Dupak. Dan untungnya, saya masih diterima disana walaupun wajah saya sudah tidak secermelang saat berangkat. Di Kecamatan Sukomanunggal, saya menunggu cukup lama untuk dilayani. Akhirnya saat itu tiba, pelayanan juga tidak bertele-tele dan saya memperoleh surat ijin.

Hari keempat adalah hari pengambilan. Hari ini tidak ada kendala berarti, pengambilan pertama ditujukan ke Kelurahan Kemayoran, kemudian Kelurahan Dupak dan terakhir meminta ijin di Kelurahan Sukomanunggal. Jarak Kelurahan Dupak dengan Sukomanunggal memang lumayan jauh. Saya harus melewati jalan-jalan yg sebelumnya jarang/tidak pernah saya lewati. Urusan di Kelurahan Sukomanunggal cukup simpel, saat itu sudah mendekati jam istirahat sehingga saya harus menunggu jam istirahat selesai.

Saya mengestimasi bahwa survey primer ini dapat selesai dalam waktu 1 minggu saja dengan 6 orang surveyor. Namun diluar dugaan, pelaksanaan survey jauh lebih lama dari dugaan. Hal ini dikarenakan kesibukan para surveyor dan ketidaksungguhan surveyor dalam pelaksanaan (padahal yo wes dibayar). Selain itu faktor yg paling menghambat yaitu susahnya mencari alamat migran masuk.

….. missing text….. (kejadiannya udah hampir 9 bulan yang lalu, aku yo lali rek detailnya)

akhirnya misi mencari data selesai dan fokus ke tahapan analisis data. Di tahapan ini ternyata jauh ribet dari yang dibayangkan sebelumnya. Saya harus mencari-cari metode analisis yang tepat untuk data yang terkoleksi. Wah bingungnya minta ampun, soalnya ga ada referensi dari TA senior yang membahas tema beginian. langsung saja ke hasil akhir —>
1. pas sidang pertama sih yang menjadi titik tekan yaitu di metode penelitian dan mengharuskan saya untuk mempelajarinya lebih dalam lagi. Kesimpulannya, saya harus belajar salah satu metode statistik yang baru bagi saya!!
2. pas sidang kedua, karena waktu survey yang begitu lama dan proses belajar statistik yang agak terhambat, membuat draft TA saya kacau balau (wes g usah dideskripsikan). Selain itu, saya juga terlambat mengumpulkan sesuai jadwal, alhasil kena potongan nilai 5 poin yang membuat saya gagal lolos sidang ini —> ngulang sidang kedua di semester depan. Auf Wiedersehen!!!

Sampai jumpa di kisah bagian 2.