Angkutan Pribadi VS Angkutan Umum di Surabaya

Pendahuluan

Kota Surabaya merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai 2.938.225 jiwa pada Desember 2009. Dengan jumlah penduduk hampir 3 juta jiwa, tentu potensi bangkitan perjalanan dan tarikan perjalanan akibat aktivitas penduduk yang dapat ditimbulkan akan besar pula. Tentu pertambahan bangkitan dan tarikan ini akan meningkatkan jumlah demand transportasi Kota Surabaya. Demand yang bertambah juga berdampak pada jumlah kepemilikan kendaraan bermotor individu maupun rumah tangga yang terus meningkat tiap tahun. Semakin banyak kendaraan yang melintasi di suatu ruas jalan maka semakin besar pula beban yang diterima jalan tersebut. Setiap ruas jalan pasti mempunyai batas maksimum beban yang dipebolehkan melintasinya. Akibat dari beban yang lebih besar dari kapasitas yang dapat ditampung maka kemacetanlah yang akan terjadi, selain itu jalan tersebut akan mudah rusak.

Gambar 1. Kemacetan Lalu Lintas di salah satu ruas jalan di Surabaya

Sumber : Internet

Meningkatnya polusi udara di Surabaya merupakan konsekuensi logis dari bertambahnya jumlah kendaraan di kota ini. Pada tahun 2002 saja partikel debu yang mencemari udara besarnya rata-rata 0,267mg/m3-0,427mg/m3. Jumlah ini jauh melebihi standard yang ditetapkan oleh WHO bahwa parameter debu maksimal adalah 0,02mg/m3. Setiap kendaraan mengeluarkan gas pembuangan berupa karbon monoksida (CO) yang beracun dan dapat menyebabkan ISPA bagi manusia. Kualitas udara yang buruk secara tidak langsung akan mempengaruhi kualitas kesehatan penduduk Surabaya. Selain itu, semakin banyak kendaraan yang beroperasi maka bahan bakar yang terkonsumsi juga besar pula. Apabila kondisi ini terus berlanjut, bahan bakar yang termasuk ke dalam sumber daya yang tak dapat terbarui akan menipis dan habis.

Tulisan singkat ini mencoba untuk mengulas fenomena meningkatnya penggunaan angkutan pribadi dibandingkan angkutan umum.

Definisi angkutan pribadi dan angkutan umum

Angkutan adalah sarana untuk memudahkan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain. Angkutan umum penumpang adalah angkutan yang menggunakan kendaraan umum dengan dikenakan sistem sewa atau bayar. Dalam UU No.14 tahun 1992, angkutan umum adalah pemindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan bermotor yang disediakan untuk umum dengan dipungut bayaran. Angkutan umum penumpang yang dimaksud dalam essay ini adalah  bus, bemo, dan mikrolet. Sedangkan angkutan pribadi angkutan yang menggunakan kendaraan pribadi berupa sepeda motor pribadi dan/atau mobil pribadi.

Pembahasan

Setiap kota pasti mengalami perkembangan di bidang ekonomi, sosial dan lingkungan. Perkembangan di bidang sosial salah satunya ditandai dengan bertambahnya jumlah penduduk. Pun juga dengan Kota Surabaya, setiap tahun jumlah penduduknya mengalami peningkatan. Peningkatan ini juga mempengaruhi aktivitas kota yang meningkat hingga akhirnya meningkatkan permintaan transportasi di Kota Surabaya. Permintaan transportasi yang meningkat ini dipenuhi oleh sebagian besar penduduk Surabaya dengan membeli kendaraan bermotor pribadi seperti motor atau mobil. Pertambahan angkutan pribadi ini tidak hanya dipicu oleh kebutuhan bergerak tetapi sudah menjadi bagian gaya hidup masyarakat perkotaan pada umumnya. Sedangkan pemenuhan kebutuhan akan pergerakan dari pemerintah kota berupa angkutan umum semakin menurun menurut data statistik dinas perhubungan. Jumlah angkutan umum yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan angkutan pribadi memaksa penduduk Surabaya menggunakan angkutan pribadi untuk melakukan pergerakan dari satu tempat ke tempat yang lain. Jumlah angkutan pribadi yang mencapai 1.205.533 buah menjadikan Kota Surabaya menjadi lautan kendaraan pada jam-jam sibuk di ruas-ruas jalan protokol.

Tabel 1. Jumlah Kendaraan Bermotor Pribadi di Surabaya

No Jenis Kendaraan Tahun
2004 2005 2006 2007
1 Motor 800.008 833.838 928.686 972.645
2 Mobil 204.313 135.592 228.195 232.888
Jumlah 1.004.321 969.330 1.156.881 1.205.533

Sumber: Dishub Pemkot Surabaya

Tabel 2. Jumlah Kendaraan Bermotor Umum di Surabaya

No Jenis Kendaraan Tahun
2004 2005 2006 2007
1 Mobil Bus 1.060 1.353 1.074 804
2 MPU 11.931 59.684 12.010 9.822
Jumlah 12.991 61.073 13.084 10.626

Sumber: Dishub Pemkot Surabaya

Ada beberapa penyebab penduduk Surabaya lebih senang menggunakan angkutan pribadinya dibandingkan angkutan umum selain jumlahnya yang jauh lebih sedikit, yaitu kenyamanan, keamanan, kebijakan pemerintah, dan persepsi masyarakat terhadap angkutan umum di Surabaya.

Masalah kenyaman dan keamanan dalam menggunakan angkutan umum di Surabaya juga menjadi pertimbangan penduduk dalam memilih moda transportasi. Kondisi angkutan umum yang masih beroperasi di jalanan Kota Surabaya rata-rata sudah tidak memenuhi standard kenyamanan dan keselamatan penumpangnya, tidak lolos dalam uji kir, body mobil yang sudah keropos termakan usia, tidak tersedianya airbag, sabuk pengaman yang rusak. Tentu kondisi semacam ini sangat membahayakan keselamatan penumpang maupun sopir, ditambah lagi cukup seringnya terjadi kriminalitas di dalam angkutan umum, sebagai contoh konkret ialah terjadinya tindak asusila di dalam busway di Jakarta. Kondisi di atas secara tidak langsung mempengaruhi penduduk dalam pemilihan moda transportasi.

Pemerintah Kota Surabaya juga berperan dalam terciptanya fenomena ini, penduduk Surabaya lebih memilih kendaraan pribadinya daripada angkutan umum yang tersedia sehingga menyebabkan permasalahan-permasalahan kemacetan, lingkungan, dan pemborosan sumber daya alam berupa minyak bumi. Kemudahan dalam membeli  kendaraan pribadi, seperti kredit dengan bunga rendah dan tanpa uang muka yang diberikan oleh produsen ke calon konsumen menarik animo masyarakat untuk memiliki kendaraan pribadi. Apabila hal ini dibiarkan begitu saja, maka Surabaya ini akan dipenuhi oleh motor dan mobil di tahun-tahun mendatang dan tidak akan ada lagi angkutan umum yang beroperasi karena setiap orang menggunakan kendaraan pribadinya masing-masing. Pemerintah seharusnya membuat peraturan tentang pembatasan kepemilikan kendaraan pribadi dengan pajak progresif, meningkatkan pajak kendaraan bermotor dan sebagainya. Di mata penduduk Surabaya, menggunakan angkutan umum sudah tidak lagi memeberikan keuntungan dibandingkan dengan menggunakan kendaraan pribadi. Sehingga penduduk Surabaya cenderung berusaha memiliki kendaraan pribadi dengan proses transaksi yang sangat mudah ditunjang dengan persepsi negatif penduduk terhadap angkutan umum.

Pemilihan moda merupakan bagian dari empat tahap perencanaan transportasi, yaitu trip generation, trip distribution, modal split dan route choice. Pemilihan moda termasuk pada tahap modal split. Sebelum melakukan analisa pemilihan moda, kita harus mengetahui dahulu besarnya bangkitan perjalanan dan distribusi perjalanan yang terdapat di kota Surabaya. Bangkitan perjalanan dapat dianalisa dari banyaknya jumlah penduduk di Surabaya yang terus meningkat dan taraf perekonomian penduduk Surabaya yang cenderung meningkat. Sebaran perjalanan dapat ditunjukkan oleh persebaran tarikan-tarikan perjalanan yang ada di Kota Surabaya yang berupa pusat-pusat kegiatan dan pelayanan. Penduduk Surabaya yang hendak melakukan perjalanan dihadapkan pada pilihan moda transportasi yang tersedia dan rute yang akan dilintasinya. Berikut prosedur sederhana yang menggambarkan proses pemilihan moda oleh penduduk.

Gambar 2. Proses Pemilihan Moda Transportasi

Sumber : Internet

Dalam proses pemilihan moda transportasi, kita dapat meninjau dari 4 segi, yaitu dari karakteristik sistem transportasi, karakteristik perjalanan, karakteristik kota dan zona dan karakteristik pelaku perjalanan. Faktor karakteristik transportasi antara lain:

1.    Waktu relatif perjalanan mulai dari lamanya menunggu kendaraan, waktu berjalan ke terminal/halte, dan waktu di atas kendaraan

2.    Biaya relatif perjalanan merupakan total biaya yan timbul akibat melakukan perjalanan dari asal ke tujuan.

3.    Tingkat pelayanan tarif

4.    Tingkat akses daya hubung/kemudahan pencapaian tempat tujuan

5.    Tingkat kehandalan angkutan umum dari segi waktu, ketersediaan ruang parkir dan tarif.

Faktor karakteristik perjalanan antara lain:

1.    Tujuan perjalanan

2.    Waktu perjalanan, seperti pagi, siang, malam hari

3.    Panjang perjalanan

Faktor karakteristik kota dan zona antara lain:

1.    Jarak kediaman dengan tempat kegiatan

2.    Kepadatan penduduk

Faktor pelaku perjalanan antara lain:

1.    Pendapatan

2.    Kepemilikan kendaraan

3.    Kondisi kendaraan pribadi

4.    Kepadatan permukiman

5.    Sosial-ekonomi lainnya (struktur dan ukuran keluarga), usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, dan sebagainya.

Penutup

Memang dalam meyelesaikan masalah transportasi tidak cukup melihat dari satu sisi saja, tetapi harus integral secara sistem karena transportasi menyangkut ilmu yang multidisiplin. Karena keterbatasan waktu dan ruang, essay ini hanya membahas sebatas faktor karakteristik pelaku perjalanan, karakteristik kota dan zona dam karakteristik sistem transportasi secara umum di Surabaya. Hendaknya Pemerintah Kota Surabaya memandang kondisi sistem transpotasi ini sebagai suatu permasalahan yang harus segera dipecahkan.

2 responses to “Angkutan Pribadi VS Angkutan Umum di Surabaya

  1. Pingback: restrukturisasi sistem transportasi « shintacintahukum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s