Dana Swadaya Masyarakat sebagai Alternatif Pembiayaan Pembangunan Daerah

Seperti halnya negara berkembang lainnya, perkembangan kota di Indonesia berlangsung dengan sangat pesatnya. Dalam periode 1980 hingga 1990 rata-rata tingkat pertumbuhan penduduk wilayah perkotaan per tahun mencapai sebesar 5,4%, melebihi rata-rata tingkat pertumbuhan penduduk secara nasional yang hanya sebesar 1,98% per tahun. Pertumbuhan kota yang pesat ini mempunyai implikasi, yaitu meningkatnya tuntutan permintaan atas pengadaan dan perbaikan prasarana dan pelayanan perkotaan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Hal ini berkaitan pula dengan meningkatnya secara pesat pendapatan per kapita dan tingkat kehidupan masyarakat perkotaan dalam periode 1980 – 1990.

Tantangan yang dihadapi oleh kota-kota di Indonesia di masa mendatang adalah bagaimana caranya mengurangi dan mengatasi gap antara kebutuhan investasi prasarana dan pelayanan perkotaan dengan relatif terbatasnya kemampuan keuangan negara untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Beberapa peluang dan potensi yang dimiliki oleh pemerintah, khususnya berkaitan dengan mobilisasi sumber penerimaan yang sudah dimanfaatkan oleh pemerintah daerah umumnya masih bersifat konvensional (tradisional), seperti misalnya pajak, retribusi dan pinjaman. Pada kenyataannya, di luar sumber-sumber yang bersifat konvensional tersebut masih banyak jenis sumber-sumber lainnya yang bersifat non-konvensional (non-tradisional), yang sebenarnya berpotensi tinggi untuk dikembangkan, seperti misalnya betterment levies, development impact fees, excess condemnation, obligasi , concession, dan sebagainya.

Secara teoritis, sumber pembiayaan pembangunan perkotaan dapat diperoleh antara lain dari, publik/pemerintah, private/swasta, gabungan antara pemerintah dan swasta. Telah dijelaskan di atas bahwa permasalahan pembiayaan pembangunan perkotaan saat ini masih cenderung menggantungkan pada sumber pembiayaan yang konvensional, padahal terdapat juga sumber pembiayaan non konvesional yang perlu juga diekplorasi. Artikel ini mencoba mengangkat dana swadaya masyarakat sebagai salah satu alternatif sumber pembiayaan pembangunan perkotaan. Definisi swadaya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kekuatan (tenaga) sendiri. Dana swadaya masyarakat adalah uang atau barang/jasa yang dapat dinilai dengan uang yang berasal dari masyarakat dan secara langsung digunakan untuk suatu keperluan tertentu, dalam hal ini adalah pembangunan perkotaan.

Salah satu program pembangunan perkotaan yang menggunakan dana swadaya masyarakat adalah program Surabaya Green and Clean dan Surabaya Berwarna Bunga. Program tersebut dikemas dalam bentuk kompetisi antar RW di Surabaya sedemikian rupa sehingga menarik minat masyarakat Surabaya untuk mengikutinya. Kampung yang mengikuti kompetisi ini pasti akan berlomba-lomba membuat kondisi kampungnya sebaik mungkin dengan kriteria penilaian yang ditetapkan oleh juri. Dengan adanya program ini, Pemerintah Kota Surabaya sangat diuntungkan karena pembangunan kampung-kampung dilaksanakan oleh warga kampung tersebut secara mandiri baik dari sisi tenaga maupun dana. Kota Surabaya menjadi lebih bersih dan berbunga dengan melibatkan partisipasi masyarakatnya tanpa menghabiskan dana yang besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s