Perjuangan Mencari Sesuap Nasi

*semoga judulnya dapat membantu mendramatisir kisah berikut

Kali ini aku mau berkisah mengenai kehidupan yang ada di sekitar kita. Seandainya kita mau peka dan mengamati kondisi, hukum-hukum kehidupan, niscaya kita akan selalu merasa bersyukur dan merasa kecil di hadapanNya. Let’s start!

Kisah ini bercerita mengenai seorang tua, seorang yang pantas ku sebut kakek. Dia tinggal tidak jauh dari rumahku, bisa dibilang dia adalah tetangga jauh. Dia hidup bersama istrinya yang tentunya umurnya tidak jauh darinya.Mungkin umurnya sekitar 70-80 tahun. Perawakannya kecil, pendek, tentunya rambutnya sudah beruban. Hal yang paling khas dari dirinya adalah cara jalannya. Cara jalannya sungguh mirip dengan seorang bayi yang sedang belajar berjalan. Namun, inilah yang membuatku memahami kebesaran Tuhan.

Ketahuilah, bahwa setiap jam 6 pagi kakek ini berjalan kurang lebih 2 km. Kira-kira untuk apa dia berjalan sejauh itu??? Hanya untuk menjual dagangannya di pasar. Namanya pasar Kedondong (jangan tanya kenapa namanya “kedondong”). Penasaran kakek tersebut menjual apa? Dia menjual “celengan” (tempat untuk menabung uang koin/kertas ) terbuat dari plastik bergambar karakter-karakter lucu. Ya! Dia setiap hari berjalan sejauh 2 km memanggul barang dagangannya dan memasarkannya ke pasar Kedondong.

Suatu hari saya melihat kakek tersebut memanggul dagangannya melintasi depan rumah saya (untuk menuju pasar selalu melintasi rumah saya). Saya perhatikan dari dalam rumah sambil melihat semangatnya untuk terus berjalan maju dengan cara berjalannya yang begitu khas, langkah kecil demi langkah kecil di lalui. Akhirnya kakek tersebut berhenti. Tentu saja pembaca, dia merasa kelelahan, padahal jarak rumahnya dengan rumahku tidaklah sampai 30 meter. Setelah beberapa menit berhenti, kakek tersebut kembali melanjutkan perjalanannya. Mungkin secara kasar, bisa ku hitung berapa kali dia berhenti untuk mencapai pasar. 2 km = 2000 m, anggap saja jarak rumahnya dengan rumahku sekitar 20 m, kemudian 2000:20 = 100 kali pemberhentian. Untuk mecapai pasar dan menjual dagangannya, dia harus berjalan sejauh 2 km dan berhenti kurang lebih sebanyak 100 kali. Maka selama pergi dan pulang kembali ke rumah, kakek menempuh sekitar 4000 km dan berhenti sebanyak 200 kali.

Aku tidak habis pikir, kakek setua itu, masih semangat berjalan sejauh itu hanya untuk menjual “celengan” plastik. Apa kira-kira dagangannya begitu laris sehingga setiap hari si kakek harus pergi ke pasar? apakah keuntungan yang didapat si kakek begitu besar sehingga dia antusias untuk meraup keuntungan lebih. Pembaca, barang yang dijual hanyalah “celengan” plastik!! Berapa sih keuntungan tiap buahnya? siapa sih yang mau beli celengan plastik jaman modern seperti ini. apa si kakek tidak tahu bahwa potensi lakunya celengan tersebut sangatlah kecil. Aku hanya berpikir, apa yang menjadi motivasi besarnya??? apa yang mampu mendorong kakek setua itu untuk menempuh perjalanan “jauh” hampir setiap hari.

Tentu saja motiv yang paling masuk akal adalah motiv ekonomi. Tetapi bukan itu inti dari semua ini. Hikmah yang dapat aku ambil dari realitas yang mungkin menurut sebagian dari kita merupakan sebuah ironi adalah berlakunya hukum-hukum Tuhan yang secara nyata harus dijalani. Aku tidak yakin celengan yang dijual itu laku tiap hari, kalau misal tidak laku, lantas kakek bersama istrinya tersebut mau makan apa?? Darimana mereka mendapat uang?

Bahwa kita manusia janganlah mudah putus asa apapun kondisi kita sekarang. Sungguh celaka orang yang berputus asa dalam menjalani hidup namun jauh memiliki kelebihan dibandingkan dengan kakek tersebut. Jika kita terkadanga merasa penat dengan rutinitas kita, maka ambil lah sedikit waktu istirahat dan lanjutkan kembali hidupmu maju, dan jangan sekali-sekali mencoba berjalan mundur. Selalu bersikap optimis menyongsong esok hari. Hidup harus dijalani dengan keoptimisan meski kadang jalan di depan kita gelap. “Entah hari ini dagangan kakek laku berapa, itu tidak menjadi masalah buat si kakek, yang perlu diketahui bahwa hari ini saya berjalan ke pasar menjual celengan dan berharap ada yang akan membutuhkan celengan ini”. dan hikmah terakhir adalah mengenai kesabaran.

#motivasi untuk teman
hey temanku yang lagi ngrintis bisnis, apa yang sedang kau risaukan.
barang daganganmu hanya laku 3 buah selama 2 hari ini?? apakah virus putus asa sudah mulai merasukimu?
tentunya kamu jauh lebih pintar dan gesit dibandingkan kakek tadi, seharusnya mentalmu juga harus jauh lebih besar dibandingkan kakek tersebut. Kakek yang tidak tahu menahu mengenai ilmu bisnis, pemasaran saja tetap menjalani rutinitasnya tersebut, apalagi kamu yang jauh lebih tahu, keep going on keep moving on!

ya, inilah ceritaku kali ini, apa ceritamu? (ngiklan mi instan)
hahahahhaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s