Mengumpulkan Potongan-Potongan Puzzle Tugas Akhir (1)

Yup! Akhirnya ketemu judul yg pas untuk tulisan saya kali ini.

Tulisan saya kali ini bercerita mengenai pengalaman pribadi selama pengumpulan data-data primer untuk Tugas Akhir. Yup, Tugas Akhir! Sebuah magical word phrase yg menyihir mahasiswa semester akhir seperti saya.

Sedikit bercerita sedikit mengenai tema tugas akhir saya yaitu penelitian mengenai faktor-faktor penarik migrasi di Kota Surabaya. Tentu saja, untuk mengidentifikasi faktor-faktor penariknya, dibutuhkan data-data yg berupa data primer hasil pengisian kuesioner. Memang secara sekunder, faktor-faktor penarik migrasi dapat diidentifikasi melalui analisis regresi. Namun kekurangan dari analisis ini, yaitu membutuhkan data-data yg berjenis interval/rasio (sebagian besar diambil dari data sekunder). Meskipun data nominal bisa dianalisis menggunakan regresi dengan menggunakan dummy, namun data yg dibutuhkan (misal, faktor kekeluargaan, faktor kualitas pelayanan fas.sosial, faktor kualitas prasaran dan sarana transportasi, dsb) tidak bisa diperlakukan sebagai input dari regresi dan bersumber dari data primer. Sehingga diperlukan survey primer/lapangan untuk mengumpulkan data-data tersebut.

Tentunya dalam survey primer, diperlukan sampel yg dapat mewakili populasi (seluruh penduduk migran masuk di Kota Surabaya). Singkat cerita (padahal dibutuhkan waktu 2 minggu untuk menentukan teknik sampling yg tepat) didapatkan 6 kecamatan sebagai sampel kecamatan, diturunkan lagi menjadi 6 kelurahan sebagai sampel kelurahan, diturunkan lagi menjadi total 296 sampel penduduk migran.

Setelah mengetahui daerah survey, saya melayangkan surat ijin survey ke instansi-instansi terkait yaitu sampel kecamatan dan sampel kelurahan. Secara umum, pelayanan birokrasi untuk perijinan ini di tingkat kecamatan cukup mudah. Tidak sesulit saya bayangkan sebelumnya (pengalaman mengurus perijinan survey di beberapa kabupaten lain). Dimulai dari Kecamatan Gubeng, surat ijin menginap satu hari karena memang saya datang kesana sore hari. Namun melihat jam Hape masih menunjukkan pukul 3an sore, saya nekat berangkat ke Kecamatan Tambakrejo. Tidak disangka pelayanan disana begitu cepat, cukup sekitar 15an menit saya menunggu, surat ijin sudah bisa diambil tanpa menunggu hari esok.

Esok harinya, saya mendatangi Kecamatan Gubeng lagi untuk mengambil surat ijin dan melayangkan ke Kelurahan Mojo. Nah, di kelurahan ini, saya menunggu cukup lama (mungkin sekitar 1 jam) karena Bu Lurah nya (masih muda n cantik loh) sedang menerima tamu. Namun selepas itu, urusan ijin beres dalam 5 menit. Setelah itu saya langsung capcus ke Kelurahan Tambakrejo, pada saat itu jam Hape menunjukkan waktu sore hari (saatnya perangkat camat n lurah berkemas-kemas pulang). Beruntung bagi saya, saya masih diterima di Kelurahan Tambakrejo. Urusan ijin, juga begitu cepat, cuman bedanya disini saya sedikit di”interogasi”, tapi itu tidak menjadi masalah.

Hari ketiga, saya mengunjungi Kecamatan Krembangan di daerah utara. Memang daerah yg cukup asing bagi saya. Namun untungnya saya dapat dengan mudah menemukannya. Sebelumnya saya membayangkan bahwa urusan di kecamatan ini cukup susah, namun tak dinyana, mengurus surat ijin di sini begitu mudah dan ramah. Akhirnya saya langsung berangkat menuju kelurahan kemayoran. Pencarian lokasi kelurahan kemayoran ini cukup sulit, saya sempat disasarkan oleh tukang becak (dasar sial). Namun setelah berputar-putar selama 45 menit an, saya akhirnya menemukan kantor Kelurahan Kamyoran. Perangkat kelurahan di sana semuanya cowok, suasana menjadi dingin mencekam (hahaha..). Saya “ditangani” dengan dingin. Kebetulan pada saat mengurus saya sedang memperhatikan warga lain yang sedang mengurus urusan administrasi, dan di akhir urusannya warga mempraktikkan “salam tempel” kepada salah satu perangkat kelurahan (menurut saya, sikap seperti ini bisa memicu perangkat kelurahan untuk bertindak curang). Setelah menyampaikan tujuan kedatangan saya, saya disuruh balik esok hari, karena Pak Lurah sedang mengikuti rapat di Kantor Kecamatan. Akhirnya saya langsung menuju ke Keluraha Dupak yg berlokasi tidak jauh dari Kelurahan Kemayoran. Pelayanan disini cukup sedang-sedang saja jika dibandingkan dengan pelayanan di 2 kelurahan sebelumnya. Karena berada di satu kecamatan dengan Kelurahan Kemayoran, maka saya terpaksa menunggu satu hari untuk mengambil surat ijin di Kelurahan Dupak. Saya kembali melihat jam Hape dan waktu masih menunjukkan tengah hari. Berbekal peta jalan yg sudah saya pelajari sebelumnya, saya memeberanikan diri mengunjungi Kecamatan Sukomanunggal di daerah Barat Surabaya. Memang cukup jauh dari Kelurahan Dupak. Dan untungnya, saya masih diterima disana walaupun wajah saya sudah tidak secermelang saat berangkat. Di Kecamatan Sukomanunggal, saya menunggu cukup lama untuk dilayani. Akhirnya saat itu tiba, pelayanan juga tidak bertele-tele dan saya memperoleh surat ijin.

Hari keempat adalah hari pengambilan. Hari ini tidak ada kendala berarti, pengambilan pertama ditujukan ke Kelurahan Kemayoran, kemudian Kelurahan Dupak dan terakhir meminta ijin di Kelurahan Sukomanunggal. Jarak Kelurahan Dupak dengan Sukomanunggal memang lumayan jauh. Saya harus melewati jalan-jalan yg sebelumnya jarang/tidak pernah saya lewati. Urusan di Kelurahan Sukomanunggal cukup simpel, saat itu sudah mendekati jam istirahat sehingga saya harus menunggu jam istirahat selesai.

Saya mengestimasi bahwa survey primer ini dapat selesai dalam waktu 1 minggu saja dengan 6 orang surveyor. Namun diluar dugaan, pelaksanaan survey jauh lebih lama dari dugaan. Hal ini dikarenakan kesibukan para surveyor dan ketidaksungguhan surveyor dalam pelaksanaan (padahal yo wes dibayar). Selain itu faktor yg paling menghambat yaitu susahnya mencari alamat migran masuk.

….. missing text….. (kejadiannya udah hampir 9 bulan yang lalu, aku yo lali rek detailnya)

akhirnya misi mencari data selesai dan fokus ke tahapan analisis data. Di tahapan ini ternyata jauh ribet dari yang dibayangkan sebelumnya. Saya harus mencari-cari metode analisis yang tepat untuk data yang terkoleksi. Wah bingungnya minta ampun, soalnya ga ada referensi dari TA senior yang membahas tema beginian. langsung saja ke hasil akhir —>
1. pas sidang pertama sih yang menjadi titik tekan yaitu di metode penelitian dan mengharuskan saya untuk mempelajarinya lebih dalam lagi. Kesimpulannya, saya harus belajar salah satu metode statistik yang baru bagi saya!!
2. pas sidang kedua, karena waktu survey yang begitu lama dan proses belajar statistik yang agak terhambat, membuat draft TA saya kacau balau (wes g usah dideskripsikan). Selain itu, saya juga terlambat mengumpulkan sesuai jadwal, alhasil kena potongan nilai 5 poin yang membuat saya gagal lolos sidang ini —> ngulang sidang kedua di semester depan. Auf Wiedersehen!!!

Sampai jumpa di kisah bagian 2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s