Angkutan Massal Cepat: Efektifkah?

Seiring berkembangnya Kota Surabaya menjadi kota metropolitan dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 3 juta jiwa, telah menjadikan Kota Surabaya menjadi salah satu kota tersibuk di Indonesia. Aktivitas penduduk yang begitu sibuk berimplikasi pada pada peningkatan volume pergerakan barang dan jasa, baik di dalam Kota Surabaya maupun dari dan keluar Kota Surabaya. Peningkatan volume pergerakan ini dapat diindikasikan dengan pertumbuhan jumlah kepemilikan kendaraan bermotor di Kota Surabaya yang meningkat setiap tahunnya dan kemacetan yang selalu semakin parah dari tahun ke tahun. Jumlah pergerakan yang terus meningkat ini juga secara tidak langsung “menuntut” dibangunnya jalan-jalan raya baru untuk memecah penumpukan kendaraan di ruas jalan-jalan tertentu terutama pada jam-jam sibuk. Tentu pembangunan jalan-jalan baru tidak bisa terus dilakukan mengingat keterbatasan lahan yang dimiliki Kota Surabaya maupun kota-kota metropolitan lainnya, hingga akhirnya muncul ide membangun angkutan massal cepat sebagai sebuah solusi untuk mengatasi kemacetan ini.

Budaya Masyarakat
Peningkatan volume pergerakan merupakan suatu hal yang wajar terjadi seiring bertambahnya jumlah populasi penduduk di sebuah kota, sehingga peningkatan volume pergerakan bukan menjadi penyebab utama atas kemacetan yang terjadi di Kota Surabaya maupun kota metropolitan lainnya. Kemacetan terjadi ketika volume kendaraan yang melintas pada suatu ruas jalan melebihi kapasitas/daya tampung dari ruas jalan tersebut. Tentu kita sadari bahwa peningkatan kendaraan bermotor pribadi sangat jauh lebih pesar daripada peningkatan kapasitas/daya tampung ruas-ruas jalan di perkotaan.Hal inilah yang menjadi biang kemacetan di kota-kota metropolitan termasuk Kota Surabaya.
Menggunakan kendaraan bermotor pribadi sudah menjadi gaya hidup masyarakat kota-kota metropolitan. Selain kemudahan dalam membeli kendaraan bermotor, kendaraan bermotor pribadi dinilai lebih efektif dan efisien digunakan berpergian atau melakukan pergerakan dari tempat asal ke tempat tujuan daripada menggunakan angkutan umum. Meskipun tempat tujuan tersebut dapat dijangkau dengan berjalan kaki atau bersepeda, tetap saja banyak masyarakat yang lebih senang menggunakan kendaraan bermotor pribadi. Penggunaan kendaraan bermotor pribadi ini sudah menjadi budaya masyarakat kota-kota metropolitan. Untuk meningkatkan minat masyarakat agar beralih ke angkutan massal cepat, pemerintah kota harus dapat mengubah budaya ini dengan menyaingi keunggulan menggunakan kendaraan motor pribadi dibandingkan menggunakan angkutan umum.

Kenyamanan
Masing-masing dari kita dapat menilai lebih nyaman mana berpergian dengan menggunakan angkutan umum atau menggunakan kendaraan bermotor pribadi. Kenyamanan yang dirasakan setiap orang dalam berpergian akan menjadi pertimbangan utama dalam memilih sarana transportasi, apakah menggunakan angkutan umum atau kendaraan bermotor pribadi. Kondisi fisik angkutan umum yang sudah tua, kotor, perilaku sopir yang terkadang ugal-ugalan dalam berkendara, apalagi dengan berbagai pemberitaan mengenai kejahatan yang tejadi di angkutan umum akhir-akhir ini tentu akan jauh mengurangi minat masyarakat untuk menggunakan angkutan umum dalam berpergian.
Angkutan massal cepat yang digagas baru-baru ini harus mampu menyaingi kendaraan bermotor pribadi dalam aspek kenyamanan. Berpergian dengan menggunakan angkutan massal cepat tidak ubahnya seperti berpergian menggunakan kendaraan bermotor pribadi. Penumpang angkutan massal cepat harus merasa nyaman, kondisi angkutan harus bersih, aman dari kejahatan, dan sebagainya seakan-akan angkutan massal cepat adalah kendaraan pribadi setiap masyarakat.

Aksesibilitas
Aksesibilitas berkaitan dengan waktu tempuh dan rute/ daya jangkau suatu kendaraan, dalam hal ini kendaraan bermotor pribadi dan angkutan umum. Dapat kita bayangkan untuk menuju tempat yang sama dari tempat asal yang sama pula, seseorang yang menggunakan kendaraan bermotor pribadi pasti lebih dahulu mencapai tempat tujuan tersebut daripada menggunakan angkutan umum. Pertimbangan waktu ini tentu salah satu menjadi preferensi masyarakat dalam memilih sarana transportasi. Rute dalam kota yang dilayani oleh angkutan umum juga terbatas jika dibandingkan dengan daya jangkau kendaraan bermotor pribadi. Belum lagi jika tidak ada angkutan umum yang melayani rute ke tempat tujuan tersebut secara langsung dari tempat asal, maka orang tersebut harus berpindah angkutan umum satu ke angkutan umum lainnya hingga mencapai tempat tujuan.
Untuk menjangkau seluruh rute tentunya tidak mungkin menggunakan angkutan massal cepat yang hanya melayani rute-rute utama. Dalam konteks Kota Surabaya, angkutan massal cepat hanya memiliki dua rute yaitu dari arah barat menuju arah timur dan sebaliknya dan arah selatan menuju arah utara dan sebaliknya. Untuk menjangkau wilayah-wilayah yang tidak dilalui angkutan massal cepat tersebut, pemerintah kota harus menyediakan angkutan feeder yang menjembatani antara rute angkutan massal cepat dan wilayah tujuan. Angkutan feeder ini juga harus memenuhi kriteria kenyamanan, aksesibilitas tinggi dan murah.

Tarif
Kriteria terakhir yang menjadi senjata untuk mengubah budaya masyarakat memakai kendaraan bermotor pribadi adalah tarif angkutan massal cepat. Tarif angkutan umum (bemo) di Kota Surabaya adalah Rp.4000 untuk satu tempat tujuan, sehingga yang dibutuhkan untuk pergi pulang sebesar Rp.8000. Belum lagi untuk menuju tempat tujuan membutuhkan pergantian rute angkutan umum sebanyak 2 kali maka diperlukan uang sebesar Rp.16000 untuk perjalanan pergi pulang. Coba kita bandingkan jika uang sebesar Rp.8000 tadi dibelikan BBM motor, kita dapat mengunjungi lebih dari satu tempat tujuan. Toh kalaupun kita membayar retribusi parkir motor di tempat tujuan, misalkan pusat perbelanjaan, kita dikenakan tarif Rp.2000, sehingga total kita mengeluarkan Rp.10000 dan masih bisa berpergian ke tempat lainnya.
Tarif angkutan massal cepat nantinya setidaknya harus lebih murah dari tarif retribusi parkir. Apabila tarif angkutan massal cepat ini tidak bisa dibuat murah, maka pemerintah kota harus berani menaikkan tarif retribusi parkir pusat-pusat kegiatan dan menindak tegas parkir liar.
Ketiga kriteria ini setidaknya harus diperhatikan oleh pemerintah kota jika memang benar-benar ingin mengubah budaya masyarakat yang gemar berpergian menggunakan kendaraan bermotor pribadi daripada menggunakan angkutan umum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s